TRANSLATE

Rabu, 05 November 2014

PEMBUATAN INJECTOR TESTING RIG BERBASIS PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER


PEMBUATAN INJECTOR TESTING RIG BERBASIS PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER

Master Theses from JBPTITBPP / 2009-03-02 09:42:56
Oleh : CHRISTIAN ARTHUR SILALAHI (NIM 23105011), Central Library Institute Technology Bandung
Dibuat : 2007, dengan 7 file

Motor bensin merupakan mesin yang melakukan konversi energi yang terkandung dalam bahan bakar menjadi energi mekanik. Proses ini diawali dengan pencampuran bahan bakar (bensin) dengan udara, kemudian campuran masuk ke dalam ruang bakar selanjutnya dibakar dengan bantuan busi. Pada awalnya sistem pencampuran bahan bakar ini dilakukan dengan mengunakan karburator, tetapi seiring dengan kemajuan bidang kontrol dan sensor, pencampuran bahan bakar dan udara dilakukan dengan sistem injeksi agar dicapai kondisi operasi yang lebih efisien. Berbagai sensor yang memantau kondisi mesin merupakan pemberi input data ke Electronic Control Unit (ECU) dan selanjutnya ECU menghasilkan sinyal yang memerintahkan injektor untuk menyemprotkan bensin.

Penggunaan sistem injeksi juga dapat mengalami masalah bila kualitas bahan bakar yang melewatinya tidak baik. Bensin yang berkualitas rendah akan cenderung membentuk deposit pada injektor, yang dapat menyebabkan pengurangan laju aliran bensin pada kondisi yang sudah ditetapkan ECU. Campuran bensin-udara yang tidak stokiometrik akan menyebabkan daya motor berkurang selain itu akan menghasilkan emisi gas buang lebih tinggi.Untuk mengetahui derajat terbentuknya deposit pada injektor diperlukan alat uji yang dapat melakukan pengukuran secara kualitatif dan kuantitatif, yaitu melalui pengamatan bentuk semprotan yang terjadi dan pengukuran volume semprotan injektor.
Alat uji yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat dipakai sebagai alat ukur untuk pengujian deposit pada injektor yang mengacu pada standar ASTM D5598. Untuk menggantikan fungsi ECU yang memberikan sinyal ke injektor.

Dikembangkan sistem kontrol berbasis PLC yang dipilih karena kemudahan dalam pemrogramannya. PLC diprogram agar memberikan sinyal kepada injektor dalam 3 mode yang mewakili 3 putaran motor. Pada penelitian ini dilakukan pengujian terhadap injektor yang dianggap mewakili keadaan injektor yang sudah terbentuk deposit. Sesuai dengan standar ASTM D5598, dilakukan perbandingan injektor sebelum dan sesudah diukur untuk mengetahui deposit yang terbentuk. Jika suatu saat dibutuhkan pengujian dengan mode yang berbeda maka PLC dapat diprogram ulang.

 

ANALISIS KEGAGALAN ENGINE STARTER VALVE MESIN CFM56-3 BOEING 737-300/400/500

Undergraduate Theses from JBPTITBPP / 2014-05-19 15:46:58
Oleh : RICKY KURNIA CHANDRA (NIM : 13106017); Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Edy Suwondo dan Dr. Arief Hariyanto, S1 - Department of Mechanical Engineering
Dibuat : 2010, dengan 7 file

Setiap mesin dari pesawat memiliki biaya perawatan mencapai 48% dari keseluruhan biaya perawatan pesawat tersebut. Oleh karena itu, pelaksanaan program perawatan yang efektif dan efisien sangat dibutuhkan oleh setiap perusahaan penerbangan. Dari hasil analisis program magang yang penulis lakukan sepanjang Februari-Mei 2010, Starting System (ATA 80) memiliki kegagalan dengan frekuensi tertinggi dalam tinjauan ATA 71 hingga ATA 80, yaitu sejumlah 94 finding atau 23% dari keseluruhan finding pada pilot report. Selain itu, pada reliability report PT. GMF Aero Asia tercatat jumlah delay akibat starting system pada tahun 2009 mencapai 18% dari keseluruhan delay yang

dialami pesawat Boeing 737-300/400/500. Setelah dilakukan penelitian terhadap data kegagalan dalam engine starting system diperoleh modus kegagalan paling tinggi dalam sistem ini, yaitu gagalnya engine starter valve. Delay yang disebabkan oleh komponen ini mencapai 10% dari keseluruhan delay pada tahun 2009. Dalam penelitian ini dilakukan evaluasi dengan mengambil data kegagalan engine starter valve dari data SAP dan Strip Report dari Januari 2004 hingga Juni 2010. Pengolahan data kegagalan menggunakan analisis Weibull untuk mendapatkan nilai keandalan komponen yang menyusun engine starter valve, kemudian hasil analisis

tersebut digunakan untuk memperoleh interval optimum pelaksanaan tindakan perawatan terhadap engine starter valve Dari hasil evaluasi dapat diketahui bahwa 2 modus kegagalan dengan frekuens tertinggi dalam engine starter valve adalah diaphragm fail dan dirty. Setelah dilakukan evaluasi dan analisis, modus kegagalan pada part diaphragm memiliki pola distribusi normal, hal ini berarti bahwa kegagalan komponen dipengaruhi oleh batas umur.Sedangkan untuk modus kegagalan dirty diperoleh pola eksponensial yang berarti bahwa kondisi operasi komponen tidak sesuai dengan standar desain awal, oleh karena itu dibutuhkan modifikasi dalam saluran udara suplai untuk penyesuaian kondisi operasi komponen.


ANALISIS DINAMIK STRUKTUR BADAN LOKOMOTIF DH DYNAMIC ANALYSIS OF CAR BODY STRUCTURE LOCOMOTIVE DH

Undergraduate Theses from JBPTITBPP / 2014-06-30 10:29:29
Oleh : AMAR HAMZAH SURYONO (NIM : 13107064); Dosen Pembimbing : Rachman Setiawan, ST, M.Sc.,Ph.D., S1 - Department of Mechanical Engineering
Dibuat : 2011

Lokomotif memiliki fungsi sebagai penggerak utama pada serangkaian kereta api. PT INKA sebagai satu-satunya perusahaan manufaktur kereta api di Indonesia berkeinginan untuk merancang dan memproduksi lokomotif diesel hidrolik untuk pertama kalinya di Indonesia. Dikarenakan produksi lokomotif ini baru pertama kalinya dilakukan, maka diperlukan proses analisis engineering dalam tahapan produksi lokomotif untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang baik. Dalam studi kasus Tugas Sarjana ini, aspek engineering yang harus dilakukan dalam analisis salah satunya adalah analisis dinamik terhadap struktur badan lokomotif. Analisis dinamik ini mencakup analisis modal struktur dan analisis harmonik yang dilakukan dengan bantuan perangkat lunak berbasis elemen hingga ANSYSTM. Analisis modal diperlukan untuk menentukan frekuensi natural struktur serta moda getar dari setiap frekuensi naturalnya.

Selanjutnya dilakukan analisis harmonik struktur untuk mendapatkan kurva respon FRF dari struktur akibat eksitasi input harmonik dari luar, dalam hal ini adalah mesin diesel dan getaran dari bogie. Langkah selanjutnya setelah analisis dinamik dilakukan, kemudian dilakukan verifikasi hasil analisis dengan beberapa data seperti data hasil eksperimen getaran pada struktur sebenarnya. Verifikasi ini dilakukan dengan membandingkan frekuensi natural pada moda getar bending pertama. Selain itu, dilakukan verifikasi terhadap frekuensi putar komponen lokomotif dimana diharapkan tidak ada komponen yang bekerja pada frekuensi natural struktur, sehingga berpotensi terjadinya resonansi getaran.
  
Dari keseluruhan analisis tersebut, didapatkan suatu keputusan untuk melakukan modifikasi terhadap struktur. Hal ini dikarenakan terdapat moda getar dengan frekuensi natural yang kritis sebesar 10,042 Hz, 11,391 Hz, dan 26,603 Hz yang hampir mirip dengan frekuensi operasional komponen, dalam hal ini mesin. Untuk menjauhkan nilai frekuensi ini dilakukan modifikasi dengan menambah kekakuan dari struktur dengan menambah ketebalan pelat pada struktur sehingga memiliki nilai frekuensi natural yang meningkat menjadi 10,148 Hz, 11,411 Hz, dan 26,613 Hz. Setelah struktur dimodifikasi, kemudian dilakukan analisis harmonik untuk mengetahui tegangan yang terjadi akibat pembebanan dinamik getaran kritis mesin dan getaran bogie. Besar tegangan yang terjadi akibat pembebanan dinamik adalah 100 MPa dan 44,9 MPa berlokasi di sekitar dudukan mesin/ditengah struktur lokomotif.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar